Rabu, 06 Februari 2013

F.e.a.r

Aku takut anda.

Aku takut anda marah.

Dan paling aku takut, aku menjadi pembenci karena anda.

Aku takut pada sorot mata anda.

Seolah-olah menghukumiku.

Aku takut pada mulut anda.

Karena akan bersuara menyayat hati.

Tapi hidup tidak berhenti hanya karena anda.

Aku harus hadapi walau dengan trauma seperti ini.

Dan tak ada cara lain.

Aku takut anda.

Aku butuh psikiater.

Senin, 04 Februari 2013

Pebruari : Face it willingly

Apa yang ku minta dalam doa, tak akan ditampik olehNya. Tapi Dia akan menunjukan kebesarannya dengan memberikan apa yang tidak diharapkan. Karena Dia ingin Aku tau, bahwa aku bisa melewatinya.

Saat aku lemah, Kuatkanlah
Saat aku merasa sempit, lapangkanlah.
Saat aku takut, beranikanlah.
Saat sedang rapuh, tegarkanlah.

Hanya Dia yang tau ketakutanku, sehingga Dia berikan aku keberanian. Dia selipkan kasih sayangnya bahwa akan ada tanganNya yang maha kokoh menopangku, mendorongku naik dan terus naik tinggi. 

Dia hadirkan tangga-tangga yang menjulang, agar aku mengerti tentang proses.

Dia juga mengingatkan, agar hati-hati menjaga hati.

Yang Dia mau, aku berani menghadapi segala tantanganNya.

Dengan namaNya, aku berjanji, aku melawan takutku.

Akan aku berikan yang terbaik dariku.

Duhai sang kuasa, pembolak-balik hati, jaga hatiku, jaga lisanku, jaga tingkahku.

Aamiin.

Sabtu, 02 Februari 2013

Pebruari tanpa F

Kemarin, Pebruari mekar sempurna. Semangat itu sekarang ranum.

Regeneration gen-gen tua. Walaupun tidak bisa melawan gravitasi. Merekah memerah.

Kembali diawal yang baru, semangat baru dan mimpi-mimpi yang baru.

Cukup pada garis yang benar, tak perlu lurus.

Matahari itu kawan, bulan itu sahabat.

Tiada bermusuh untuk menjelajahi bulan ini.

Siapapun yang akan menyelak, buka telinga.

Siapa tahu, selakan itu semakin membakar jiwa dan menjadi mekar sempurna.

Pebruari tanpa F

F for F***

Kamis, 31 Januari 2013

Respect : Kunci Perubahan

Bon, perubahan itu bukan kata mustahil untuk apapun. Apalagi buat Indonesia Raya.

Kenyataan paling nyata, Indonesia Raya kehilangan nilai-nilai saling menghargai dalam segala aspek. Menghargai generasi tua, menghargai sejarah, menghargai usaha orang lain, atau menghargai kebaikan orang lain.

Negara ini tidak akan sembuh, ketika rakyatnya berhenti saling menghargai. Dan parahnya, bahkan saling tuduh, saling maki, saling mempersalahkan, dan saling merasa paling benar.

Negara ini akan terus sakit sekarat, selama rakyatnya masih meremehkan satu sama lainnya, memandang rendah sesama, dan sekali lagi, merasa paling benar.

Penyakit kronis yang dibiarkan akan mengarak dihati dan terpatri diotaknya, bahwa kebenaran ada dalam dirinya dan orang lain salah. Sehingga disetiap sudut jalanan, setiap sekolah, kantor, perusahaan, dan ruang rapat akan ditemui betapa penyakit merasa paling benar ini akan mengeruk nilai penghargaan pada orang lain.

Menghargai orang lain itu memang tidak mudah, tapi tidak susah. Singkirkan ego bahwa diri selalu benar, buang jauh-jauh rasa dipihak yang benar, turunkan pandangan, dan lihatlah, semuanya sama. 

Respect, kunci untuk semua perubahan.

Mulai dari menghargai waktu, menghargai diri sendiri, menghargai orang lain, menghargai segala produk masyarakat yang patu untuk dihargai, akan memulai dan memacu perubahan itu lebih nyata.

Saya, sebagai seorang rakyat, dengan hati yang terluka dan tidak dihargai, berjanji akan berusaha menghargai orang-orang disekitar saya, no blame, saya akan memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan orang lain. Saya yakin, suatu hari nanti, orang-orang yang tidak menghargai saya, akan mendapatkan apa yang telah disemai. Dan saya akan tetap menghargainya karena telah membuat saya merasa patut dihargai dan membuat saya ingin membuktikan bahwa saya patut dihargai.

*Taruh perubahan 5 cm tepat didepan mata kamu, agar kamu selalu ingat dan melihat pada perubahan.

Melancong Tanpa Permisi 2 (chinese garden)


Akhirnya Bus ini berhenti di Woodland, akhirnya Ame bisa bernafas lagi. 

Karena memang tidak tau mau kemana, karena taunya cuma patung merlion, sesampai di Woodland, Ame menganga senganga-nganganya, banyak manusia lalu lalang, yang jual tiket mesin semua. Bawa tas yang berat sekaleee, jaketan, bawa peta, gembel sekaleeee Bon.... Ada orang Indonesia, oh GOD thank you, tapi jawabannya sama, "kamu beli tiketnya disana" sambil nunjuk mesin. MasyaAllah, itu yang Ame ga ngerti pencet apa. Mesinnya touch screen Bon, liatin orang pencet-pencet tetep aja ngerti. Kebetulan ada petugas, orang melayu juga, tapi dia bilang, Ame harus punya uang receh buat masukin kemesinnya. Ame disuruh tuker uang. Aduuuh, yang ada warung-warung elit, Ame juga ga napsu makan, keliling-keliling nyari receh pusingnya bikin kebelet. Pipis di toilet orang sini ternyata ga ada air, pakai tisu pula, tambah pening. Untung perut bersahabat sekali pagi itu.

Ah, nyali Ame kembali meciut, ga tau harus ngapain lagi. Ame coba putar-putar nyari pos informasi, YAHOO! Ame dikasih peta baru, terus Ame harus manfaatin waktu dan informasi yang banyak, berhubung Ame pulang harus ke The Plaza tempat Bus Transnasional mangkal, Ame tanya dimana beach road berada, petugasnya bingung sambil liat peta, wadduuuhhh.... Kemudian petugasnya melingkari Station Lavender. Katanya beach road ada disana, golden triangle, coba aja ke sana. Huuuuftttt, ya udah kataku, masih pagi juga, urusan pulang belakangan. Sekarang caranya keluar dari woodland bagaimana ?

Sambil lihat peta yang berwarna-warni lucu, ada tulisan station Chinese Garden, trus juga ada Japanese Garden, wahhh mumpung pagi, kesana aja wes, merlionnya nanti dulu. Kembali ke mesin tiket, ibu petugasnya ada, lagi bantuin orang korea yang satu kereta tadi pagi. Ternyata ! gak perlu uang receh ! mesinnya punya kembalian ! Terus ibu petugasnya bantuin Ame beli tiket ke Chinese Garden, tanpa receh ! Astaga, kenapa nyuruh cari receh tadi ? Tiket langsung keluar + kembaliannya berupa koin. Terima kasih banyak-banyak ibu petugas.

Dan untuk pertama kali (lagi) naik Monorail Bon, melayang diatas jalan, gila kayak naik mainan dipasar malam. Ame senyam senyum sendiri, menikmati indahnya alam orang yang sudah berubah jadi beton semua tapi dihiasi hijau-hijau pohon, manis lah daripada baliho semua.

Sampai lah station chinese garden, aseeeekkkk, cerahnya matahari pagi, hangat, dan ame masih jaketan + ranselan, celingak-celinguk poto-poto.... Disambut jembatan merah ala china, ada polisi india yang ramah menyapa, ame sapa balik, terus masuk disambut lagi pagoda (mungkin), ahhh, ini ame masih belum percaya ame sendirian di negeri orang. Sambil tersenyum lagi, ame semakin kenal diri ame.




Yaa, perjalanan bukan hanya berjalan-jalan dan berkunjung tapi juga sebagai dialog dengan alam, dengan diri sendiri. Kembali berpikir, mengenali diri sendiri dan bersatu dengan alam. Kadang diri dipaksa untuk mengejar mimpi tanpa mengenali lebih dalam hakikat diri. Sehingga yang didapat hanya kekecewaan saat mimpi kandas ditengah jalan dan memaki diri sendiri. Padahal diri sendiri mempunyai hak-nya untuk dikenali dan diperlakukan dengan baik. Melewati replika taman jepang membawa memori buruk, hahahaaa... Kemuakan yang sudah meningkat, bahkan hampir jijik, tapi seandainya ame di Jepang beneran, Ame pasti akan besar kepala, dan bilang pada dunia, I was here, Japan dengan sombongnya.... Itulah yang Ame pikirkan saat melintas di taman Jejepangan ini. Sepertinya diri Ame pun menolak untuk berbangga menginjak tanah sakura karena hanya untuk pembuktian semata. Ok, deal-nya, Ame akan kesana kalau memang ada perlunya. Bukan list paling atas juga buat dikunjungi. Luruskan niat ajaa-lah, kalau udah lurus, cuzz....


 Next, karena ini taman luas sekale, badan pegel, kaki gempor, masih pagi, udah gerah dan belum mandi, selonjoran dulu diaspal, mumpung sepi pengunjung pagi ini. Oh, suasana ini mirip didepan SMA Ame dulu, pohon-pohon pinus berjejeran, langit biru, bau rumput, owh masa SMA kembali menyeruak dalam kenangan. Ah, jadi kepikiran balik cepet....



     AME udah capppppppeeeee banget.... Istirahat, jalan lagi, istirahat, jalan lagi, uang Ame habis beli air minum, sebotolnya diatas $1 semua, gila aja 8000 rupiah. Tapi daripada mati, terus ga ada yang kenal, balik tanah air ame disumpahin sama orang-orang, setiap $1 yang melayang bagaikan credit buat sisa-sisa nyawa hari ini. Dari sini ame belajar bersyukur tinggal di Indonesia, walaupun bagaimanapun, harga air lebih bersahabat. Dari ini aku belajar menghargai tubuh, harus dijaga dan disyukuri nikmat sehatnya.


Karena ini pelancongan solo perdana, mau poto juga susah, padahal bawa tripod, tapi ribet, jadi tempat terbaik taroh kamera dibatu taman. Kamera siap, lanskapnya juga ciamik, eh si Ame malah bediri tepat ditengah rumah china-nya.... males juga ngulang poto. Cabut next destination... To be continued........